Nama-nama Wadai Khas Banjar, yang Bakal "Asing" Jika Tak Dilestarikan
Bingka hanyalah salah satu dari sekian banyak wadai yang dikenal dalam tradisi kuliner masyarakat Banjar. Istilah Wadai Banjar 41 Macam merujuk pada kumpulan 41 jenis wadai atau kue tradisional yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan.
Angka 41 bukan sekadar jumlah jenis kue, tetapi telah menjadi istilah yang melekat dalam tradisi kuliner Banjar. Wadai-wadai tersebut memiliki bentuk, bahan, rasa, cara pembuatan, serta konteks penyajian yang beragam. Dalam sejumlah tradisi masyarakat Banjar, wadai juga hadir dalam berbagai kegiatan dan perayaan, sehingga keberadaannya tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat.
Namun, ketika melihat berbagai sumber mengenai kue tradisional Banjar, jumlah nama yang ditemukan bisa lebih dari 41. Hal ini karena istilah Wadai 41 tidak selalu berarti seluruh kue tradisional Banjar yang pernah dikenal hanya berjumlah 41 jenis.
Seiring waktu, terdapat berbagai wadai dan penganan lain yang juga dikenal dan dikonsumsi masyarakat Banjar, termasuk variasi atau bentuk lain dari wadai yang sudah ada. Karena itu, daftar yang lebih panjang dapat memuat nama-nama di luar kelompok yang secara khusus disebut sebagai Wadai 41.
Daftar di bawah mengikuti nama-nama yang tercantum dalam halaman Kue tradisional Banjar di Wikipedia bahasa Indonesia. Halaman tersebut memuat daftar yang lebih luas daripada 41 nama, sehingga jumlahnya mencapai 69 nama. Dengan demikian, daftar tersebut sebaiknya dibaca sebagai daftar kue dan wadai tradisional Banjar yang tercantum dalam sumber tersebut, bukan sebagai daftar definitif “Wadai Banjar 41 Macam”.
Untuk pembahasan mengenai 41 macam wadai secara khusus, salah satu rujukan yang dicantumkan adalah buku Neni Puji Nur Rahmawati, Makna Simbolik dan Nilai Budaya Kuliner Wadai Banjar 41 Macam pada Masyarakat Banjar Kalsel (2014).
Berikut daftar wadai Banjar:
1.Amparan Tatak
2.Apam Barabai
3.Apam Surabi
4.Ardat
5.Babungku
6.Balikuhai
7.Bingka
8.Bingka Barandam
9.Buah Jingah
10.Bubur Baayak
11.Bubur Gunting
12.Bubur Randang
13.Cingkaruk
14.Dodol Kandangan
15.Gagampam
16.Kue Getas
17.Gagauk
18.Gaguduh
19.Gambung
20.Hintalu Karuang / Gayam
21.Hula-hula
22.Kakicak
23.Kakulih
24.Kalalapun
25.Lakatan Putih Bahinti
26.Lakatan Kuning Bahintalu
27.Puracit
28.Lupis
29.Papudak Baras
30.Papudak Sagu
31.Papari
32.Putu Mayang
33.Surabi
34.Tapai Baras
35.Tapai Gumbili
36.Ular-ular
37.Wajik
38.Putri Keraton
39.Putri Selat
40.Kelambin / Kulambin
41.Roti Pisang
42.Sari Pengantin
43.Sari India
44.Sari Muka
45.Kararaban
46.Nangka Susun
47.Ambikuk
48.Topi Waja
49.Pais Pisang
50.Pais Sagu
51.Pais Waluh
52.Suuk
53.Amparan Tatak Sagu
54.Wadai Gambung
55.Gaguduh Banyalam
56.Dulinat
57.Arang-arang
58.Sarang Kalulut
59.Lempeng
60.Putri Daun / Lumpur Surga
61.Sarawa
62.Rimpi Pisang
63.Putri Kaca
64.Sari Kaya
65.Sari Antah
66.Dadar Gunting
67.Daun Paring
68.Rangai
69.Garigit
Sumber: Kue tradisional Banjar, Wikipedia bahasa Indonesia, bagian “Varian Kue”, diakses September 2026. Halaman tersebut mencantumkan referensi buku Neni Puji Nur Rahmawati, Makna Simbolik dan Nilai Budaya Kuliner Wadai Banjar 41 Macam pada Masyarakat Banjar Kalsel (2014).
___________________________________
TENTANG BERDJEDA INSTITUTE
Berdjeda Institute adalah ruang yang bekerja untuk menyelamatkan cerita dan pengetahuan tentang kehidupan.
Kami meyakini bahwa tidak semua hal yang penting dalam kehidupan tercatat dalam buku sejarah, laporan resmi, atau angka statistik. Banyak pengetahuan hidup di dalam ingatan manusia, percakapan sehari-hari, pengalaman sebuah keluarga, kebiasaan sebuah komunitas, perubahan sebuah tempat, dan cerita-cerita kecil yang sering dianggap tidak penting.
Ketika orang-orang yang mengalaminya pergi, ketika sebuah tempat berubah, ketika sebuah kebiasaan berhenti dilakukan, atau ketika sebuah peristiwa berlalu, pengetahuan tersebut dapat ikut menghilang.
Karena itu, Berdjeda mengembangkan Konservasi Cerita: sebuah upaya untuk mendokumentasikan, memahami, memverifikasi, menceritakan, mengarsipkan, dan menjaga cerita, pengalaman, ingatan, serta pengetahuan tentang kehidupan agar tetap dapat ditemukan dan diwariskan.
Kami menggunakan jurnalisme sebagai salah satu cara untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Bagi Berdjeda, sebuah cerita tidak hanya penting karena sedang terjadi hari ini. Ia juga mungkin penting karena suatu hari nanti cerita itu menjadi satu-satunya jejak tentang bagaimana manusia pernah hidup, berpikir, merasakan, dan menghadapi perubahan pada suatu masa.
Yang kami perjuangkan sederhana: Agar manusia tidak kehilangan pengetahuan tentang dirinya sendiri.
BERDJEDA INSTITUTE
Konservasi Cerita



Post a Comment