Bingka Banjar Seperti Kudapan "Wajib" Saat Ramadan
Setiap bulan suci Ramadan, bingka Banjar selalu hadir menemani berbuka puasa. Meski tidak setiap hari, biasanya ada saja kue yang satu ini. Tidak hanya saat berbuka puasa di rumah, namun juga bisa ditemukan saat berbuka puasa bersama di masjid dan tempat-tempat lainnya.
Di Banjarmasin sendiri ada beberapa merek bingka Banjar yang terkenal. Seperti bingka Kurnia Rasa, Thambrin Salon, Bunda dan beberapa merek lainnya. Tentu saja semuanya memiliki citrasa khasnya masing-masing.
Saya ingat sekitar tahun 2016-an, perlu gercep untuk mendapatkan bingka dengan merek-merek yang sudah ternama ini saat bulan Ramadan. Bahkan saya ingat, saat siang hari sekitar pukul dua, bingka sudah habis tak bersisa diburu pembeli. Jadi jangan harap bisa menemukan dengan mudah bingka-bingka ini saat mendekati waktu berbuka puasa tiba.
"Sudah habis ding ay, kelandungan ikam manungkar. Siang kayni sudah habis ditukari urang," ujar salah satu penjual bingka yang saya temui di pinggir jalan.
Biasanya kalau sudah begini, kita harus membeli di tempat-tempat penjual wadai Banjar tanpa nama. Mereka biasanya banyak ditemukan di pinggir jalan permukiman, depan komplek dan terutama ada di Pasar Wadai Ramadan yang diadakan oleh pemerintah kota.
Bingka tanpa merek ini biasanya lebih miring harganya. Tentu saja ada harga ada rasa. Bingka yang nikmat tentu saja yang tidak terlalu kentara rasa tepungnya. Tapi berasa gurih, legit telur dan wangi dari kentang atau bahan lain. Termasuk cara mengolahnya. Ada yang dipanggang tradisional, ada yang dioven dengan alat modern. Cara-cara itu menghasilkan citrasa yang berbeda pula.
Kalau saya sendiri, lebih senang dengan bingka kentang. Meskipun kada bingka kelapa, tapai, dan lain-lain. Tetap saja bagi saya, bingka kentanglah juaranya. Saya juga kurang suka tekstur kentang yang terlampau lembut. Selera saya, bingka yang agak lembut tapi saat dikunyah masih berasa tekstur kasar kentang. Itu kesukaan saya.
Entah mengapa, bagi saya yang orang Banjar ini. Kehadiran bingka saat Ramadan itu serasa "perlu" ada. Mungkin karena sejak dulu sudah menjadi tradisi, tapi ya begitulah adanya. Jika harga bingka ini mahal, setidaknya dulu saat masih ngekos, waktu kuliah, kami toh tetap saja bisa menyantap nikmatnya bingka saat berbuka puasa bersama di masjid.
Meski banyak sekali jenis wadai khas Banjar lain yang tidak kalah enak. Namun rasanya bingka Banjar tetap menjadi juara kalau disajikan saat berbuka puasa. Tapi jelas ini adalah soal selera, tergantung dari pribadi masing-masing yang merasakannya. Betul kan?
Namun belakangan ini, terutama di tahun 2026, saya mulai sedikit memerhatikan. Sepertinya, bingka yang dulu cepat sekali habis, kadang mulai melambat juga habisnya. Kalau dulu sepuluh tahun lalu, di siang hari bingka "terkenal" sudah ludes, kini ada yang sampai sore haripun masih belum habis terjual. Itu saya kurang paham juga. Hanya saja saya khawatir, apakah ini sebuah sinyal bahwa daya beli masyarakat sedang turun? Semoga saja tidak.



Post a Comment