Di Tengah Asap Mereka Memilih Melawan
Sebelum PJJ diberlakukan, kabut asap sudah mulai terasa setiap pagi di Desa Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala. Bagi para guru yang sebagian besar tinggal jauh dari sekolah, kondisi itu berarti harus berangkat pagi-pagi sekali dan terpapar asap sepanjang perjalanan. Ketika pulang, tidak jarang mereka kembali menemukan asap dan kebakaran lahan di sepanjang jalan. Itu sudah seperti hal umum yang sebenarnya tidak umum dalam kondisi normal.
Menurut Muna Izzati, guru SMAN 1 Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, dampaknya mulai dirasakan oleh warga sekolah. Banyak guru dan murid mengalami radang tenggorokan, sakit perut, dan berbagai keluhan kesehatan lainnya.
"Hal itu menjadi masukan bagi kami bahwa pembelajaran sebaiknya diadakan penyesuaian," kata Muna, Sabtu (26/9/2026).
![]() |
| KARHUTLA - Kebakaran lahan mendekati kawasan sekolah. |
Bagi Muna, perubahan yang paling terasa selama kondisi itu adalah kesehatan. Banyak warga sekolah mengalami sakit kepala, diare, dan radang tenggorokan. Banyak anak akhirnya izin tidak masuk sekolah. Ketika pembelajaran tatap muka masih berlangsung pun, beberapa kali siswa dipulangkan lebih cepat karena kebakaran terjadi di sekitar desa.
Anak-anak sulit berkonsentrasi belajar. Sebagian dari mereka mencemaskan sawah dan rumah keluarganya yang berada di sekitar wilayah kebakaran. Malam hari, beberapa anak laki-laki bahkan ikut berjaga untuk memantau titik api yang muncul tanpa diduga.
"Sehingga ketika sekolah, anak kurang konsentrasi dan mengantuk, belum lagi terjadi masalah kesehatan," kata Muna.
Dari situ Muna merasa justru banyak belajar dari anak-anaknya. Jejangkit, katanya, merupakan daerah yang harus berhadapan dengan berbagai bencana sepanjang tahun. Ketika musim kering, kebakaran menjadi ancaman. Ketika musim hujan, banjir datang. Saat angin kencang, warga juga harus waspada karena beberapa kali terjadi puting beliung.
Menurut Muna, kondisi seperti itu sebenarnya tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang normal. Tetapi anak-anak di sana pada akhirnya tumbuh dengan pengalaman menghadapi bencana yang berulang. "Mereka terbiasa PJJ, terbiasa capek menghadang api dan bersiap banjir," ujarnya.
Ia mengaku sedih melihat keadaan itu, tetapi pada saat yang sama merasa kagum kepada anak-anak tersebut. "Anak-anak ini punya banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak-anak kota."
Salah satu pengalaman yang paling diingat Muna terjadi ketika api mendekati sekolah. Guru laki-laki bersama sejumlah murid bersiap membantu memadamkan kebakaran. Di sekolah mereka bahkan membentuk satuan tugas bencana bernama Smanja Rescue.
Anak-anak ikut turun dan, menurut Muna, begitu bersemangat menghadapi api. Sementara para guru perempuan berada di belakang untuk memberikan dukungan dengan menyiapkan makanan ringan, minuman, dan vitamin bagi tim yang bertugas.
Ada seorang guru perempuan yang memang memiliki trauma terhadap api. Ketika melihat kebakaran, ia sampai merasa mual dan sakit sehingga akhirnya memilih pulang lebih dulu. Di tengah semua itu, Muna teringat satu kejadian lain yang menurutnya cukup menarik.
Beberapa hari sebelumnya, ketika kegiatan belajar masih dilakukan secara tatap muka, ada anak-anak dari tim rescue yang mendapat tugas presentasi di kelas. Mereka gugup. Bahkan sampai merasa mual. Ada ironi kecil di sana. Anak-anak yang tidak gentar ketika harus berhadapan dengan api ternyata bisa sangat gugup ketika berdiri di depan kelas. "Anak-anak ini tidak gentar dengan api, namun gugup luar biasa ketika presentasi," kata Muna.
Yang paling dikhawatirkan Muna setelah semua itu adalah sesuatu yang mungkin tidak langsung terlihat dari kabut asap adalah kualitas belajar anak-anak yang menurun.
Pembelajaran jarak jauh menjadi semakin sering dilakukan. Tetapi menurutnya, PJJ tidak bisa menggantikan pembelajaran tatap muka sepenuhnya. Penyampaian materi tidak seefektif ketika guru dan murid berada di ruang kelas yang sama. Belum lagi persoalan jaringan dan kuota internet yang masih menjadi masalah bagi sebagian anak. "Jujur kami jadi sering PJJ. Ketika PJJ, pemberian materi tidak seefektif seperti luring," katanya.
Di sisi lain, keselamatan dan kesehatan murid juga tetap menjadi kekhawatiran. Meski Muna mengakui, dalam menghadapi kondisi seperti ini anak-anak Jejangkit justru sering terlihat lebih tangguh dibandingkan guru-guru yang datang dari luar Jejangkit.
Bagi dirinya sendiri, kekhawatiran paling besar adalah kesehatan para guru. Beberapa kali mereka bahkan terjebak karhutla ketika sedang dalam perjalanan pulang. Ketika banjir datang, sepeda motor para guru juga tidak sedikit yang mengalami masalah. Tetapi Muna tidak ingin berhenti pada kekhawatiran.
Menurutnya, kabut asap justru memperlihatkan bahwa guru dan murid berada di dalam rumah besar yang sama: pendidikan. Dalam situasi seperti ini, mereka seperti dipertemukan oleh musuh yang sama. "Yaitu kejahilan dan arogansi manusia dalam memperlakukan alam," ujarnya.
Peran mereka mungkin terasa kecil. Tetapi Muna memilih untuk tetap percaya bahwa pendidikan bisa menjadi bagian dari perubahan yang lebih panjang. Setelah berkali-kali Jejangkit menjadi seperti "samsak alam", ia berharap suatu hari anak-anak yang tumbuh di sana justru menjadi penjaga lingkungan mereka sendiri.
"Suatu hari dengan edukasi yang konsisten, anak-anaknya akan bangkit menjadi penjaga alamnya yang tangguh." Ia percaya pada keyakinannya itu.
Pengalaman menghadapi kabut asap kali ini bahkan membuat Muna mengubah cara ia mengajar. Ia mulai memasukkan literasi lingkungan ke dalam pembelajaran bahasa Inggris. Ia tidak ingin lagi hanya berpangku tangan melihat kondisi yang berulang. Ia kemudian merancang pembelajaran dan gim edukasi digital yang berbasis pada kondisi lokal, termasuk literasi lingkungan tentang lahan gambut dan karhutla.
"Saya lawan meski mungkin saat ini dampaknya masih kecil," katanya.
Bagi Muna, persoalan di lapangan juga sering kali lebih besar daripada yang terlihat dari pemberitaan. Wilayah yang terpapar karhutla sangat luas, sementara pemantauan sering kali hanya dilakukan dari pos-pos tertentu. Apa yang diketahui masyarakat melalui media, menurutnya, belum tentu menggambarkan seluruh keadaan di lapangan.
Di balik asap yang terlihat, ada banyak hal lain yang ikut dipertaruhkan: kualitas pendidikan anak-anak, kesehatan kelompok yang rentan, hingga kerugian petani yang lahannya terbakar sebelum sempat dipanen. Karena itu, Muna melihat kabut asap bukan sebagai persoalan yang selesai ketika udara kembali jernih. "Kabut asap ini hanya dampak."
Menurutnya, keadaan akan terus berulang dan bahkan bisa semakin parah setiap tahun jika bagian hulunya tidak ditelusuri dan ditangani dengan serius. ()










Post a Comment