Header Ads

Hal yang Dulu Biasa: SMS dan Seni Menulis Sesingkat Mungkin

Ada masa ketika mengirim pesan kepada seseorang membutuhkan sedikit perhitungan. Bukan karena pesannya harus sangat penting, tetapi karena SMS memiliki batas karakter dan setiap pesan yang dikirim biasanya mengurangi pulsa.

SMS atau Short Message Service bekerja melalui jaringan operator seluler. Ketika seseorang mengetik pesan di ponselnya dan menekan tombol kirim, pesan tersebut diteruskan melalui jaringan operator hingga sampai ke nomor tujuan. Prosesnya sederhana bagi pengguna: tulis, kirim, lalu tunggu balasan.

Yang membedakannya dari layanan pesan sekarang adalah keterbatasannya. Sebuah SMS standar dapat memuat hingga 160 karakter dengan pengkodean tertentu. Huruf, angka, spasi, dan tanda baca ikut dihitung. Jika pesan lebih panjang, pesan dapat dibagi menjadi beberapa bagian.

Batas 160 karakter itu kemudian ikut membentuk kebiasaan berkomunikasi. Orang mulai terbiasa menyingkat kata agar pesan tetap pendek. “Lagi di mana?” menjadi “lg dmn?”. “Sudah sampai?” menjadi “udh smp?”. “Besok jadi?” cukup ditulis “bsk jd?”. Kita tidak sedang mencoba membuat bahasa baru. Kita hanya sedang menghemat tempat.

Biaya SMS ikut membuat kebiasaan itu semakin masuk akal. Pada masa ketika SMS masih menjadi salah satu cara utama berkomunikasi melalui telepon seluler, operator mengenakan tarif untuk pesan yang dikirim, meskipun besarannya berbeda-beda tergantung operator, periode, dan paket yang digunakan. Ketika pulsa terbatas, mengirim beberapa SMS untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya bisa disampaikan dalam satu pesan tentu terasa tidak efisien.

Karena itu, orang terbiasa menyusun pesan dengan singkat. Bukan hanya supaya tidak melewati batas karakter, tetapi juga supaya tidak terlalu banyak menghabiskan pulsa.

Keterbatasan tersebut melahirkan semacam kebiasaan menulis yang sekarang terasa agak asing. Kita hafal singkatan seperti “udh”, “blm”, “lg”, “bsk”, “kpn”, “jgn”, dan “sm”. Bahkan orang bisa memahami kalimat yang kehilangan beberapa huruf tanpa merasa ada yang aneh. Kemudian datang layanan pesan internet.

WhatsApp, BlackBerry Messenger, LINE, dan berbagai aplikasi lainnya perlahan mengubah cara kita berkirim pesan. Panjang pesan tidak lagi menjadi persoalan yang berarti. Kita bisa menulis beberapa paragraf, mengirim foto, video, stiker, atau pesan suara tanpa harus memikirkan berapa karakter yang tersisa.

Ada sesuatu yang hilang bersama perubahan itu: kebutuhan untuk memikirkan setiap kata sebelum menekan tombol kirim. Bukan berarti cara berkomunikasi melalui SMS lebih baik atau lebih buruk. Hanya saja, teknologi yang terbatas pernah membuat kita mempunyai kebiasaan yang berbeda. Ketika satu pesan hanya memiliki ruang 160 karakter dan pulsa harus dipertimbangkan, kita belajar menyampaikan maksud dengan kata-kata sesedikit mungkin.

Barangkali itu salah satu hal kecil yang menarik dari sejarah SMS. Ia bukan hanya mengubah cara orang berkirim pesan, tetapi juga pernah mengubah cara orang menulis.

Hari ini kita tidak lagi perlu menghitung karakter untuk bertanya, “Lagi di mana?” Dulu, kita hanya menulis: “lg dmn?”

Kebiasaan menyingkat kata kemudian menjadi bagian dari bahasa sehari-hari. “Lg”, “udh”, “blm”, “bsk”, “kpn”, “dmn”, “jgn”, dan “sm” bukan lagi sekadar cara untuk mengakali batas karakter. Lama-kelamaan, orang langsung memahami maksudnya tanpa perlu menerjemahkan satu per satu. Ada singkatan yang bertahan sampai sekarang, ada pula yang hanya akrab bagi mereka yang pernah melewati masa ketika SMS menjadi bagian dari keseharian.

SMS juga melahirkan kebiasaan lain yang mungkin sulit dipahami oleh orang yang tumbuh dengan internet: miss call. Panggilan yang sengaja dibuat sangat singkat, bahkan kadang hanya satu dering, lalu ditutup sebelum sempat diangkat.

Tidak selalu berarti ada sesuatu yang mendesak. Miss call bisa berarti “aku sudah sampai”, “telepon aku”, “jadi berangkat?”, atau sekadar memberi tahu bahwa seseorang sedang mengingat kita. Maknanya sering kali sudah dipahami oleh dua orang yang melakukannya.

Pada masa tertentu, miss call juga menjadi cara berkomunikasi ketika pulsa sedang menipis. Satu dering bisa menjadi tanda yang sudah disepakati. Kalau sudah sampai rumah, kasih miss call. Kalau mau ditelepon, kasih miss call. Tidak perlu menjelaskan lagi.

Yang juga berbeda dari sekarang adalah cara orang menunggu balasan. Setelah mengirim SMS, tidak ada tanda bahwa pesan sudah dibaca. Tidak ada tulisan “typing...”, tidak ada centang dua, dan tentu saja tidak ada centang biru..Kita hanya tahu pesan sudah dikirim. Setelah itu, tinggal menunggu.

Kalau tidak dibalas, kita tidak langsung tahu apakah orang tersebut belum melihatnya, sedang sibuk, tidak punya pulsa untuk membalas, berada di tempat tanpa sinyal, atau memang belum ingin menjawab. Kadang kita mengirim SMS lagi. Kadang menelepon. Kadang memilih menunggu.

Ada jarak yang lebih panjang antara mengirim pesan dan mendapatkan jawaban. Dan mungkin karena itu pula, sebuah balasan SMS terasa lebih ditunggu.

Cara berkomunikasi melalui chat sekarang hampir seluruhnya menghilangkan jarak tersebut. Kita bisa melihat seseorang sedang mengetik. Pesan bisa langsung masuk dan dibaca. Kita bisa tahu apakah pesan sudah diterima, bahkan pada beberapa aplikasi kita bisa mengetahui kapan pesan dibaca.

Percakapan pun tidak lagi harus menunggu satu pesan selesai. Dua orang bisa saling mengirim beberapa pesan dalam hitungan detik. Foto, tautan, rekaman suara, video, lokasi, stiker, dan berbagai bentuk komunikasi lain bisa masuk ke percakapan yang sama.

SMS terasa jauh lebih sederhana. Hanya tulisan pendek yang masuk ke layar ponsel, lalu seseorang memutuskan kapan akan membalasnya.

Tetapi mungkin justru karena keterbatasan itu, kita dulu lebih sadar bahwa sebuah pesan sedang dalam perjalanan dari satu orang kepada orang lain. Ada biaya untuk mengirimnya, ada batas untuk menulisnya, dan setelah dikirim ada waktu yang harus dilewati sebelum jawaban datang.

Sekarang semuanya jauh lebih cepat dan mudah. Kita dapat berbicara kapan saja, mengirim apa saja, dan hampir tidak perlu memikirkan keterbatasan teknis yang dulu melekat pada SMS. Tapi coba ingat satu pesan yang mungkin pernah begitu akrab dengan ponsel kita dulu: “Udh smp?”

Mungkin pernah dikirim teman yang sudah lebih dulu tiba di tempat janjian. Kalimatnya pendek. Hanya beberapa huruf.

Tetapi bagi sebagian orang, mungkin ada satu nama, satu tempat, atau satu masa yang langsung muncul ketika membacanya.

SMS bukan sesuatu yang langsung muncul bersama ponsel seperti yang kita kenal sekarang. Layanan ini dikembangkan sebagai bagian dari standar GSM, sistem komunikasi seluler digital yang mulai digunakan pada awal 1990-an. Pada awalnya, SMS bahkan bukan dirancang sebagai cara utama orang berbincang lewat ponsel. Fungsinya lebih sederhana: menyediakan layanan untuk mengirim pesan teks pendek melalui jaringan seluler.

Pesan SMS pertama di dunia dikirim pada 3 Desember 1992. Neil Papworth, seorang programmer asal Inggris, mengirimkannya dari komputer kepada Richard Jarvis, seorang direktur Vodafone yang sedang menghadiri pesta Natal perusahaan. Isinya cuma dua kata: “Merry Christmas.”

Setahun kemudian, ponsel Nokia mulai memiliki fitur SMS. Namun pada masa awal, berkirim pesan lewat ponsel belum menjadi kebiasaan seperti sekarang. Teknologinya masih baru dan penggunaannya belum langsung meluas. Baru setelah SMS bisa digunakan lintas jaringan pada akhir 1990-an, layanan ini mulai berkembang menjadi salah satu cara komunikasi yang sangat populer.

Menariknya, layanan yang pada awalnya hanya berupa pesan teks pendek itu kemudian mengubah kebiasaan komunikasi jutaan orang. Kita mulai terbiasa mengirim kabar tanpa harus menelepon, menunggu seseorang mengangkat telepon, atau berada di tempat yang sama. Dan dari sinilah cerita tentang 160 karakter, singkatan, pulsa, miss call, dan kebiasaan menunggu balasan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Memasuki awal 2010-an, SMS mulai kehilangan sebagian tempatnya dalam percakapan sehari-hari. Di Indonesia, tanda-tandanya sudah terlihat pada 2012. Volume SMS Telkomsel turun 47,8 persen dibanding tahun sebelumnya, sementara layanan pesan berbasis internet mulai semakin banyak digunakan.

Pada masa yang sama, BlackBerry Messenger, WhatsApp, LINE, dan aplikasi serupa mulai mengubah kebiasaan orang berkirim pesan. Pesan tidak lagi bergantung pada tarif per SMS. Selama ada koneksi internet, orang bisa mengirim tulisan, foto, dan kemudian berbagai bentuk pesan lainnya dalam satu percakapan.

Perubahannya tidak terjadi sekaligus. SMS masih digunakan dan jumlahnya tetap besar. Pada 2013, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat penggunaan SMS masih tinggi, meskipun cenderung stagnan dan mulai menurun pada beberapa operator. Di sisi lain, penggunaan layanan pesan berbasis internet terus berkembang.

Pelan-pelan, tempat SMS dalam kehidupan sehari-hari pun berubah. Dulu, ketika ingin mengabari seseorang, kita membuka menu pesan dan mengetik nomor tujuan. Sekarang, kebanyakan orang langsung membuka aplikasi chat dan mencari nama orang yang ingin dihubungi.

SMS akhirnya tidak benar-benar hilang. Ia hanya tidak lagi menjadi pilihan utama untuk mengobrol. Sampai sekarang, SMS masih digunakan untuk hal-hal seperti kode verifikasi, pemberitahuan layanan, dan pesan otomatis. Tetapi untuk percakapan dengan orang lain, zaman sudah membawa kita ke tempat yang berbeda.

close
pop up banner