Bingka Banjar, Galapung dan Kemiripannya dengan Filipina, Malaysia
Sungguh menarik, saat kami melakukan penelusuran terhadap asal kata bingka untuk bingka Banjar, kami menemukan kemiripan. Di Filipina ada kue bibingka yang disebut berbahan dasar galapong.
Kata bibingka saja sudah sangat mirip dengan kata bingka. Ditambah lagi bahan dasar yaitu galapong yang dalam bahasa Tagalog berarti tepung beras. Di sinilah "gong-nya"
Dalam bahasa Banjar, tepung sering disebut sebagai gelapung. Gelapung, galapong tentu saja sangat mirip kedengarannya. Barangkali ini merupakan warisan bahasa dari Austronesia kuno yang menyebar di Asia Tenggara.
Pada Kamus Bahasa Banjar Dialek Hulu-Indonesia yang diterbitkan Balai Bahasa Banjarmasin mencatat kata galapung tersebut dan memberikan contoh penggunaan ayak galapung, yaitu menapis atau mengayak tepung.
Kata ini menjadi menarik ketika kita melihat bahasa-bahasa lain di kawasan Asia Tenggara. Dalam sumber lama mengenai bahasa Tagalog yang kami temukan, galapung tercatat dengan arti “flour”. Dalam penggunaan Tagalog yang kemudian terdokumentasi, bentuk galapong berkaitan lebih khusus dengan tepung beras dan pengolahan beras menjadi bahan makanan.
Bentuk-bentuk yang berdekatan juga muncul dalam bahasa Filipina lainnya. Data leksikal mencatat galapon dalam Ilocano dan ginalpong dalam Central Bikol. Bentuk-bentuk tersebut berkaitan dengan pengolahan beras atau tepung.
Kemiripan itu tentu belum membuktikan adanya hubungan langsung antara bahasa Banjar dan bahasa-bahasa Filipina. Namun, ia menjadi menarik karena yang dibandingkan bukan hanya bunyi katanya. Yang dibandingkan adalah kata yang berada di dalam dunia pangan yang hampir sama: beras, tepung, dan proses mengolahnya menjadi makanan.
Jejak serupa juga ditemukan di Jawa. Dalam sebuah kajian yang membandingkan unsur linguistik bahasa Banjar dan Jawa, galapung dalam bahasa Banjar dibandingkan dengan gelepung dalam bahasa Jawa, keduanya dengan arti tepung.
Di sini kita menemukan sesuatu yang sederhana tetapi menarik. Kata Banjar galapung mempunyai bentuk yang mirip dengan gelepung dalam bahasa Jawa dan galapong dalam Tagalog. Bahkan bentuk galapung sendiri pernah tercatat dalam sumber lama Tagalog.
Tetapi kemiripan kata tidak otomatis berarti bahwa satu bahasa meminjamnya dari bahasa lain. Untuk menentukan hubungan etimologis, diperlukan pembuktian yang jauh lebih luas mengenai perubahan bunyi, persebaran kata, bentuk-bentuk dalam bahasa lain, serta sejarah hubungan masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.
Karena itu, kita tidak dapat mengatakan bahwa galapung Banjar berasal dari Filipina. Kita juga belum dapat mengatakan bahwa bentuk Filipina berasal dari Banjar.
Yang dapat dilakukan adalah mencatat kemiripan tersebut sebagai sebuah hubungan. Semakin menarik ketika kita kembali kepada bingka. Bingka sendiri memiliki bentuk kata yang mirip di wilayah lain. Dalam bahasa Melayu, R. J. Wilkinson mencatat bingka atau kueh bingka sebagai nama sebuah kue Melayu.
Dalam bahasa Banjar, bingka juga tercatat sebagai nama kue. Kamus Bahasa Banjar Dialek Hulu-Indonesia mencatat bingka sebagai “(kue) bingka; bikang”. Yang menarik, kamus yang sama mencatat bingkai sebagai entri yang berbeda.
Artinya, sejauh sumber yang kita miliki, tidak ada dasar untuk menyatakan bahwa kata bingka berasal dari bingkai. Kedua kata tersebut memang sama-sama tercatat, tetapi kamus tidak memberikan hubungan etimologis di antara keduanya.
Di Filipina terdapat bibingka, seperti yang sempat dibahas sedikit di awal tulisan ini. Yaitu jenis kue berbasis beras yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi pangan setempat. Dalam pembahasan linguistik mengenai kata tersebut, Robert Blust pernah mengajukan kemungkinan bahwa bibingka merupakan kata pinjaman dari bahasa Melayu [kue] bingka. Namun, itu merupakan hipotesis, bukan kesimpulan yang telah membuktikan asal-usul kata bingka. Bentuk pengulangan pada bibingka juga masih menjadi persoalan yang belum terjelaskan.
Dengan demikian, ada dua jejak yang muncul ketika kita melihat bingka lebih dekat. Pertama adalah nama makanannya. Bingka dan bentuk-bentuk yang menyerupainya di wilayah lain.
Yang kedua adalah bahasa bahan dan proses pembuatannya: galapung dalam bahasa Banjar dan bentuk-bentuk serupa yang ditemukan di sejumlah bahasa lain.
Keduanya belum cukup untuk membangun satu teori tentang asal-usul bingka Banjar. Tetapi keduanya memperlihatkan sesuatu yang penting. Bahwa makanan dapat menyimpan sejarah yang tidak selalu terlihat dari resepnya.
Ketika seorang pembuat bingka menyebut tepung sebagai galapung, ia sedang menggunakan sebuah kata yang hidup dalam bahasa Banjar. Kata itu mungkin hanya kata sehari-hari. Tetapi ketika kata tersebut dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang ditemukan di Jawa dan Filipina, kita menemukan kemungkinan adanya sejarah bahasa yang lebih panjang.
Untuk saat ini, yang dapat dicatat adalah bahwa bingka merupakan kata yang terdokumentasi dalam bahasa Banjar dan Melayu, sementara bentuk bibingka terdapat di Filipina. Di sekitar makanan berbasis beras tersebut, terdapat pula kosakata seperti galapung dan bentuk-bentuk yang mirip di beberapa bahasa lain.
Apakah semua itu berasal dari satu sejarah bahasa yang sama? Belum dapat dipastikan.
Apakah mungkin terdapat hubungan yang lebih tua di antara masyarakat yang menggunakan kata-kata tersebut? Tentu saja menjadi pertanyaan yang masih terbuka.



Post a Comment