Header Ads

Sekolah di Tengah Udara yang Berbahaya

Tulisan ini adalah hasil wawancara kami bersama Ahya, guru SMP di Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Dalam tulisan ini, bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang pendidik di daerah yang berdekatan dengan karhutla, kualitas udara yang berbahaya dan pembelajaran yang tertunda. Wawancara dilakukan pada 24 September 2026.


Di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, kualitas udara pada September 2026 bahkan sudah masuk kategori berbahaya. Pada 23 September 2026 pukul 08.10 WIB, misalnya, pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mencatat ISPU Gunung Mas mencapai 2.445 dengan parameter PM10. Di Murung Raya, angkanya 1.700. Sementara Barito Selatan-Sanggu mencapai 1.000. Ketiganya berada dalam kategori berbahaya.

Dalam klasifikasi ISPU, angka di atas 300 sudah masuk kategori berbahaya. Angka-angka itu mungkin hanya terlihat sebagai deretan angka di layar. Tetapi di baliknya ada kehidupan yang ikut berubah.

Sekolah harus menyesuaikan kegiatan. Anak-anak yang biasanya belajar di ruang kelas harus mengikuti pembelajaran dari rumah. Orang tua harus berpikir ulang sebelum membiarkan anak beraktivitas di luar.

Bagi Ahya, kabut asap juga berarti melihat anak-anak tetap harus berangkat sekolah ketika udara sudah tidak lagi aman. Ia masih mengingat bagaimana kondisi pagi itu. Asap menghalangi pandangan. Bau menyengat terasa sejak pintu rumah dibuka. Ketika mengecek kualitas udara di internet, kondisinya ternyata sudah bukan lagi sekadar tidak sehat, tetapi masuk dalam level berbahaya.

“Melihat siswa-siswa yang harus berangkat ke sekolah dalam kondisi seperti itu, di situ saya menyadari bahwa kesehatan dan keselamatan siswa perlu lebih diprioritaskan dibandingkan hal-hal yang lain,” katanya.

Sekolah kemudian tidak benar-benar berhenti. Pembelajaran tetap berjalan, hanya saja berpindah ke ruang yang berbeda. Ini tentu saja seperti membuka masalah dan adaptasi baru. Google Meet, WhatsApp, dan berbagai cara belajar daring mulai digunakan.

Pada awalnya, perubahan itu tidak mudah. Interaksi dan energi selama pembelajaran menurun drastis. Guru dan siswa sama-sama perlu beradaptasi. Mayoritas siswa tetap mengikuti pembelajaran secara online. Tetapi tidak semuanya.

Ketika ada siswa yang tidak aktif, ujar Ahya, guru-guru di sekolah mendatangi rumah mereka. Bukan untuk menegur, tetapi untuk bersilaturahmi, berbicara dengan siswa dan orang tua. "Kami mengajak mereka kembali mengikuti pembelajaran meski kondisi udara sedang buruk, lewat online," tuturnya.


Di balik angka-angka kualitas udara, ada persoalan lain yang membuat Ahya khawatir: kesehatan anak-anak dan pelajaran yang tertinggal. Masih ada anak yang tidak menggunakan masker ketika berada di luar rumah. Gangguan pernapasan menjadi kekhawatiran tersendiri.

Sementara dalam pembelajaran, ada mata pelajaran yang tidak bisa begitu saja dilewati.
Matematika, misalnya. Jika satu materi tidak benar-benar dipahami, materi berikutnya bisa menjadi lebih sulit. Ketika proses belajar terganggu, yang hilang bukan cuma satu atau dua hari sekolah.

Ada kemungkinan sebuah pemahaman ikut tertinggal. Bagi Ahya, pengalaman ini juga mengubah cara melihat sekolah. Sekolah, katanya, bukan sekadar tempat untuk mentransfer ilmu. Sekolah juga harus menjadi tempat yang aman.

Muhammad Maulidi Ahya - Foto diambil sebelum karhutla.
Karena itu, ketika kabut asap datang, ekspektasi akademis perlu diturunkan. Kesehatan dan keselamatan siswa menjadi hal yang lebih utama.
Ada pula dampak yang mungkin tidak muncul dalam laporan sekolah atau grafik kualitas udara.

Perasaan terkurung

Kondisi ini rupanya juga turut menguras kesehatan mentalnya. Ahya yang biasanya aktif berolahraga di luar rumah, seperti jogging dan berjalan kaki, terpaksa menggantinya dengan olahraga di dalam rumah. Aktivitas sederhana yang biasanya bisa dilakukan tanpa berpikir, tiba-tiba harus dipertimbangkan kembali. "Ada lelah mental, kecemasan, dan rasa pasrah karena tidak banyak yang bisa dilakukan ketika udara di luar rumah sudah tidak aman. Mungkin itu salah satu bagian dari kabut asap yang sering luput dibicarakan," terang mantan aktivis mahasiswa ini.

Kita punya angka kualitas udara. Kita punya data kebakaran. Kita punya jumlah titik panas. Tetapi ada kehidupan sehari-hari yang ikut menyempit di antara angka-angka tersebut. Dan bagi Ahya, kabut asap tidak sederhana. Ia melihatnya sebagai sebuah krisis yang merampas banyak hak. Hak untuk bernapas lega. Hak atas kesehatan. Hak atas pendidikan. “Setiap hari yang hilang karena kabut asap adalah masa depan yang tertunda bagi siswa-siswa,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah lebih serius dalam melakukan pencegahan dan penanganan kabut asap yang terus berulang. Sebab bagi mereka yang hidup di dalamnya, kabut asap bukan hanya sesuatu yang terlihat dari kejauhan.
"Asap masuk ke rumah, sudah masuk ke ruang kelas, masuk ke jadwal sekolah. Bahkan sudah masuk ke kehidupan sehari-hari," ujar ia.

Pada 21 September, sejumlah wilayah di Kalteng juga tercatat memiliki ISPU yang sangat tinggi. Murung Raya mencapai 4.090, sementara Barito Selatan-Sanggu tercatat 987. Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalteng memang sedang berada pada kondisi yang serius. Di saat yang sama, titik panas masih terdeteksi dalam jumlah besar.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan, yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, mencatat 968 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah hingga 20 September 2026 pukul 23.59 WIB. Jumlah tersebut menurun dibandingkan sehari sebelumnya, tetapi Kalteng masih menjadi provinsi dengan hotspot high confidence terbanyak di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Ada satu hal yang penting dicatat. Hotspot bukan berarti sama dengan jumlah kebakaran. 

Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot, sehingga indikasi tersebut tetap perlu diverifikasi dengan kondisi di lapangan.
close
pop up banner