Header Ads

Kabut Asap, Dua Minggu Belajar dari Rumah

Sudah sekitar dua minggu sekolah dilakukan dari rumah akibat kabut asap di sebagian wilayah Kalimantan Selatan hingga 25 September 2026. Bagi Nida, pelajar SMP di Banjarmasin, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejauh ini tidak terlalu menjadi masalah baginya. Ia tetap mengikuti pelajaran secara daring dan mengerjakan tugas yang diberikan guru. “Biasa aja,” katanya.


Meski begitu, ia tetap ingin kembali ke sekolah seperti biasa. Kabut asap membuat udara terasa tidak nyaman. Langit juga terlihat berbeda, termasuk warnanya. Di tengah kondisi itu, kegiatan belajar tetap berjalan dari rumah.

Yang menarik, perhatiannya tidak hanya tertuju pada kondisi sekolah. Ia juga mempertanyakan respons pemerintah terhadap kabut asap. Meski masih duduk di bangku SMP, ia juga membaca informasi melalui media sosial mengenai kondisi ini.  "Penanganannya lambat dan tindakan yang dilakukan masih kurang sih," ujarnya.

ZOOM CLASS - Nida sekolah via Zoom Meeting di rumah 
Untuk sementara, ia tetap belajar dari rumah. Pelajaran berjalan, tugas tetap dikerjakan, tetapi sekolah belum kembali seperti semula. Ia hanya menunggu udara kembali aman dan bisa kembali masuk kelas.

Pengalaman ini tentu tidak otomatis berarti PJJ akan menimbulkan dampak yang sama seperti yang terjadi selama pandemi. Namun, pengalaman Indonesia ketika sekolah ditutup dalam waktu panjang menunjukkan bahwa pembelajaran dari rumah memiliki konsekuensi yang perlu diperhatikan.


Survei UNICEF pada 2020 terhadap lebih dari 4.000 siswa di 34 provinsi menemukan 66 persen siswa merasa tidak nyaman belajar dari rumah dan 87 persen ingin segera kembali ke sekolah. Kekurangan bimbingan guru dan akses internet juga menjadi persoalan yang cukup banyak disebut siswa.

Studi World Bank kemudian memperkirakan penutupan sekolah di Indonesia saat itu berkaitan dengan learning loss sekitar 0,9 hingga 1,2 tahun. Bagi anak yang saya ajak bicara, persoalannya saat ini masih sederhana. Ia tetap bisa belajar, tetapi ingin kembali ke sekolah.

Di luar rumah, udara masih belum nyaman. Di dalam rumah, pelajaran tetap berlangsung.
Dan sambil mengerjakan tugas, ia juga mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih besar. Mengapa udara bisa sampai seperti ini dan mengapa penanganannya terasa lambat?

Di Banjarmasin, Dinas Pendidikan mulai mengalihkan pembelajaran tatap muka ke PJJ sejak 7 September 2026 melalui Surat Edaran Nomor 6378 Tahun 2026. Kebijakan itu berlaku untuk TK, SD, SMP, PKBM, dan SPNF negeri maupun swasta, dengan evaluasi setiap tiga hari berdasarkan kondisi kualitas udara. Surat tersebut ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin Ryan Utama.

PJJ kemudian beberapa kali diperpanjang mengikuti kondisi udara. Salah satunya melalui Surat Pemberitahuan Lanjutan Nomor 6848 Tahun 2026, yang menetapkan PJJ pada 24–26 September 2026. ()

INFOGRAFIS PJJ DI BANJARMASIN


close
pop up banner